Showing posts with label PENGANTAR POPULER KARYA JUJUN S. SURIASUMANTRI. Show all posts
Showing posts with label PENGANTAR POPULER KARYA JUJUN S. SURIASUMANTRI. Show all posts

Wednesday, March 23, 2016

SEKILAS FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER BAB 4

BAB IV
EPISTEMOLOGI : CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR




Kau tahu sendiri bagaimana metodeku, Watson.
(Arthur Conan Doyle dalam The Crooked Man).
11.            Jarum Sejarah Pengetahuan
      Jadi kriteria kesamaan dan bukan perbedaan yang menjadi konsep dasar pada waktu dulu. Semua menyatu dalam kesatuan yang batas-batasnya kabur dan mengambang. Tidak terdapat jarak yang jelas antara obyek yang satu dengan obyek yang lainnya. Konsep dasar ini baru mengalami perubahan fundamental dengan berkembangnya Abad Penalaran (The Age of Reason) pada pertengahan abad ke-17. Sebelum Charles Darwin menyusun teori evolusinya kita menganggap semua makhluk adalah serupa yang diciptakan dalam waktu yang sama.
      Dengan berkembangnya abad penalaran maka konsep dasar berubah dari kesamaan kepada pembedaan. Mulailah terdapat pembedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan, yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan konsekuensinya mengubah strukruk kemasyarakatan. Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan apa yang diketahui, bagaiamana cara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.
      “Ah,” keluh sejarawan Hendrik Willem van Loon, “ingin saya menuliskan sejarah dalam satu suku kata.”
      “Satu suku kata mungkin tidak bisa,” jawab seorang ilmuan “namun mungkin ada kalimat yang patut diingat oleh mereka yang mendalami perkembangan ilmu.”
      “Yakni…..”
      “Jangan putar jarum sejarah!”



12.            Pengetahuan
      Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tak langsung turun memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk dibayangkan bagiamana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan.
      Setiap pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontology), bagaiamana (epistemology) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut itu disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan;jadi ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu dan epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Jadi kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi ilmu.
      Seni pada sisi lain dari pengetahuan, mencoba mendeskripsikan sebuah gejala dengan sepenuh-penuh maknanya. Kalau ilmu mencoba mengembangkan sebuah model yang sederhana mengenai dunia empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang terikat pada sebuah hubungan yang bersifat rasional, maka seni (paling tidak seni sastra), mencoba mengungkapkan obyek penelaahan itu sehingga menjadi bermakna bagi pencipta dan mereka yang meresapinya, lewat berbagaia kemampuan manusia untuk menangkapnya, seperti pikiran, emosi dan pancaindera. Model pengangkatan realitas dalam seni, sekiranya karya seni dapat diibaratkan sebuah model, adalah bersifat penuh dan rumit namun tidak bersifat sistematik. Karena itu kita tidak bisa mempergunakan model tersebut untuk meramalkan dan mengontrol gejala alam. Tetapi memang bukan itulah tujuan sebuah kegiatan seni.
      Usaha untuk menjelaskan gejala ala mini sudah mulai dilakukan oleh menusia sejak dulu kala. Diperkirakan bahwa nenek moyang kita pun tak kurang takjubnya memperhatikan berbagai kekuatan alam yang terdapat di sekeliling mereka. Mereka merasa tak berdaya menghadapi kekuatan alam yang sangat dahsyat yang dianggapnya merupakan kekuatan yang luar biasa ini, dicobanya unuk menjelaskannya mengkaitkan dengan makhluk yang luar biasa pula, dan berkembanglah berbagai mitos tentang berbagai dewa dengan berbagai kesaktian dan perangainya. Gejala alam merupakan pencerminan dari kepribdian dan kelakuan mereka dank arena pada waktu itu gejala alam sukar diramalkan, berkembanglah tokoh-tokoh supernatural yang bersifat begitu.
      Tahap selanjutnya ditandai oleh usaha manusia untuk mencoba menafsirkan dunia ini terlepas dari belenggu mitos, mereka menatap kehidupan ini tidak lagi dari balik harum dupa atau asap kemenyan. Dengan mempelajari alam mereka mengembangkan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis. Berkembanglah lalu pengetahuan yang berakar pada pengalaman berdasarkan akal sehat (common sense) yang didukung oleh metode mencoba-coba (trial-and-error).
      Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” yang mempunyai kegunaan langsung dalam kehidupan sehari-hari di samping “seni halus” yang bertujuan untuk memperkaya spiritual. Seni terpakai ini mempunyai dua ciri, yaitu:
1.      Bersifat deskriptif dan fenomenologis
2.      Ruang lingkup terbatas
      Akal sehat dan cara coba-coba mempunyai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam. Ilmu dan filsafat dimulai dengan akal sehat sebab tak mempunyai landasan permulaan lain untuk berpijak. Tiap peradaban betapapun primitifnya mempunyai kumpulan pengetahuan yang berupa akal sehat.
      Ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian. Dalam usaha menemukan penjelasan ini terutama penjelasan yang bersifat mendasar dan postulasional, maka ilmu tidak bisa melepaskan diri dari penafsiran yang bersifat rasional dan metafisis. Ilmu mempunyai dua buah peranan, ujar Bertrand Russel, pada satu pihak sebagai metafisika sedangkan pada pihak lain sebagai akal sehat yang terdidik (educated common sense). Berkembanglah metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktin yang dilakukan secara empiris.
      Metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan islam, ketika ilmu dan pengetahuan lainnya mencapai kulminasi antara abad IX dan XII Masehi. Pengembangan metode eksperimen yang berasal dari Timur ini mempunyai pengaruh penting terhadap cara berfikir manusia sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai penjelasan teoritis apakah sesuai dengan kenyatan empiris atau tidak.



13.            Metode Ilmiah
      Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan ilmu pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang bisa didapatkan dengan memenuhi berbagai syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi terdapat dalam metode ilmia.
      Seperti diketahui berfikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara kerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mampunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yang bersifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini maka metode ilmiah mecoba menggabungkan cara berfikir deduktif dan cara berfikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya.
      Berfikir deduktif memberika sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilmiah disusun setahap demi setahap dengan menyusun berbagai argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada.
      Penjelasan yang bersifat rasional ini dengan kriteria kebenaran koherensi tidak memberikan kesimpulan yang bersifat final, sebab sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistik, maka dimugkinkan disusunkannya berbagai penjelasan terhadap suatu obyek pemikiran tertentu. Oleh karena itu, maka dipergunakan pula cara berfikir induktif yang berdasarkan kriteria kebenaran korespondensi.
      Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan dapat dianggap benar sekiranya materi yang dikandung dalam pernyataan itu bersesuaian (berkorespondensi) dengan obyek factual yang dituju oleh pernyataan tersebut. Atau dengan kata lain, suatu pernyataan dianggap benar bila terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut.
      Proses kegiatan ilmiah menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Disimpulkan bahwa karena ada masalahlah maka proses kegiatan berfikir dimulai, dan karena masalah ini berasal dari dunia empiris, maka proses berfikir tersebut diarahkan kepada pengamatan obyek yang bersangkutan, yang bereksistensi dalam dunia empiris pula.
      Karena masalah yang dihadapinya adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta. Teori merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan obyek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan, biar bagaimanapun meyakinkannya, tetap harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.
      Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara permasalahan yang sedang kita hadapi. Dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan jawaban yang benar maka seorang ilmuan seakan-akan melakukan sesuatu “interogasi terhadap alam”. Hipotesis dalam hubungan ini berfungsi sebagai penunjuk jalan yang memugkinkan kita untuk mendapatkan jawaban, karena alam itu sendiri membisu dan tidak responsive terhadap pertayaan-pertanyaan. Harus kita sadari bahwa hipotesis itu sendiri merupakan penjelasan yang bersifat sementara yang membantu kita dalam melakukan penyelidikan.
      Hipotesis ini pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis dan pengatahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya. Penyusunan seperti ini memungkinkan terjadinya konsistensi dalam mengembangkan ilmu secara keseluruhan dan menimbulkan pula efek kumulatif dalam kemajuan ilmu.
      Dengan adanya jembatan berupa penyusunan hipotesis ini maka metode ilmiah sering dikenal sebagai proses logico-hypothetico-verification; atau menurut Tyndall sebagai “perkawinan yang bekesinambungan antara deduksi dan induksi”. Proses induksi ini mulai memegang peranan dalam tahap verifikasi atau pengujian hipotesis di mana dikumpulkan fakta-fakta empiris untuk menilai apakah sebuah hipotesis didukung oleh fakta atau tidak. Sebenarnya dalam proses penyusunan hipotesis ini, meskipun dasar berfikirnya adalah deduktif, kegiatannya tidaklah sama sekali terbebas dari proses induktif. Penyusunan hipotesis itu sendiri dilakukan dalam kerangka permasalahan yang bereksistensi secara empiris dengan pengamatan kita yang mau tak mau turut mempengauhi pross berfikir deduktif. Kegiatan seperti ini akan leboh mendekatkan lagi hipotesis yang kita susun dengan dunia fisik yang secara teoritis memperbesar peluang hipoteis untuk dapat diterima.
      Langkah selanjutnya setelah menentukan hipotesis adalah menguji hipotesis tersebut dengan mengkonfrontasikan dengan dunia fisik yang nyata. Proses pengujian merupakan pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan.
      Alur berfikir yang tercangkup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberpapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berfikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Perumusan masalah;
2)      Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis;
3)      Perumusan hipoteis;
4)      Pengujian hipotesis;
5)      Penarikan kesimpulan.
      Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Langkah-langkah yang telah disebutkan diatas harus dianggap sebagai patokan utama di mana dalam penelitian yang sesungguhnya mungkin saja berkembang sebagai variasi sesuai dengan bidang dan permasalahan yang diteliti.
      Metode ilmiah adalah penting bukan saja dalam proses penemuan pengetahuan namun lebih-lebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmuan. Sebuah laporan penelitian ilmiah mempunyai sistematika  cara berfikir tertentu yang tercermin dalam format dan tekniknya. Perbedaan utama dari metode ilmiah bila dibandingkan dengan metode-metode pengetahuan lainnya, meurut Jacob Bronowski, adalah hakikat metode ilmiah yang bersifat sistematik dan eksplisit.
      Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris. Dalam hal ini harus disadari bahwa proses pembuktian dalam ilmu tidaklah bersifat absolut. Jadi pada hakikatnya suatu hipotesis dapat kita terima kebenarannya selama tidak didaptkan fakta yang menolak hipotesis tersebut. Hal ini membawa dimensi baru kepada hakikat ilmu yakni sifat pragmatis ilmu. Ilmu tidak bertujuan mencari kebenaran absolute melaikan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu.
      Penelitian merupakan pencerminan secara konkret kegiatan ilmu dalam memproses pengetahuannya. Metodologi penelitian ilmiah dan hakikatnya merupakan operasionalisasi dari metode keilmuan. Dengan demikian maka penguasaan metode ilmiah merupakan persyaratan untuk dapat memahami jalan pikiran yang terdapat dalam langkah-langkah penelitian. Langkah-langkah penelitian yang mencakup apa yang diteliti, bagaiamana penelitian dilakukan serta untuk apa hasil penelitian digunakan adalah koheren dengan landasan ontologis,  epistemologis, dan aksiologis keilmuan. Dengan demikian maka pengetahuan filsafati yang bersifat potensial secara konkret memperkuat kemampuan ilmuan dalam melakukan kegiatan ilmiah secara operasional.
      Ilmu juga bersifat konsisten karena penemuan yang satu didasarkan kepada penemuan-penemuan sebelumnya. Sebenernya hal ini tidak seluruhnya benar karena sampai saat ini belum satu pun dari seluruh disiplin keilmuan yang telah berhasil menyusun satu teori yang konsisten dan menyeluruh.
      Ilmu memandang kebenaran sebagai tujuan yang mungkin dapat dicapai namun tak pernah sepenuhnya tangkapan kita itu sampai. Tiap langkah kita dalam menemukan pengetahuan yang benar selalu diintai oleh kekeliruan. Kegiatan ilmuan pada jiwanya merupakan komitmen moral dan intelektual untuk mencoba mendekati kebenaran dengan cara sebenar-benarnya.
      Demikian juga ilmu yang makin terspesialisasikan menyebabkan bidang kajian suatu disiplin keilmuan semakin sempit  yang ditambah berbagai pembatasan dalam pengkajiannya seperti postulat, asumsi dan prinsip membikin lingkup penglihatan keilmuan makin bertambah sempit pula. Hal inilah yang menimbulkan gejaladeformation professionalle yakni perubahan bentuk sebuah ujud dilihat dari kacamata profesional. Bentuk yang bersifat artifisial ini berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya disebabkan berkembangnya sarana berfikir yang merupakan kerangka yang mengikat berbagai disiplin keilmuan dalam melakukan penelaahan bersama diantaranya adalah cara berfikir sistem.
      Terlepas dari segala keterbatasannya ilmu merupakan pengetahuan yang telah menunjukkan keampuhannya dalam membangun kemajuan peradaban.  Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu dalam tempat yang sewajarnya, sebab hanya dengan sikap itulah, kita dapat memanfaatkan kegunaanya semaksimal mungkin bagi kemaslahatan manusia.  Mengatasi harus kita sadari bahwa ilmu hanyalah sekedar alat dan semuanya tergantung kita apakah kita mempergunakan alat ini dengan baik atau tidak.



14.            Struktur Pengetahuan Ilmiah
     Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu dapat diibaratkan sebagai piramida terbalik dengan perkembangan pengetahuannya yang bersifat kumulatif di mana penemuan pengetahuan ilmiah yang satu memungkinkan penemuan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang lainnya.
      Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada. Penjelasan keilmuan memungkinkan kita meramalkan apa yang akan terjadi dan berdasarkan ramalan tersebut kita bisa melakukan upaya mengontrol agar ramalan itu menjadi kenyataan atau tidak. Jadi pengetahuan ilmiah pada hakikatnya memiliki tiga fungsi, yakni menjelaskan, meramalkan dan mengontrol. Tantum possumus, ujar Francis Bacon, quantum scimus!(kita dapat melakukan sesuatu sebatas yang kita tahu!).
      Secara garis besar terdapat empat jenis pola penjelasan yakni deduktif, probabilistik, fungsional atau teologis, dan genetik. Penjelasan deduktif mempergunakan cara berfikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya. Penjelasan probabilistik merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif melainkan penjelasan yang bersifat peluang seperti “kemungkinn”, “kemungkinan besar” atau “hamper dapat dipastikan”. Penjelasan fungsional atau teologis merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsure dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik atau arah perkembangan tertentu. Penjelasan genetic mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul demikian.
      Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mecakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Sebenanya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten, namun hal ini baru dicapai oleh beberapa disiplin keilmuan saja contohnya fisika. Ilmu sosial pada kenyataannya terdiri dari berbagai teori yang tergabung dalam suatu disiplin keilmuan yang satu sama lain belum membentuk suatu perspektif teoritis yang bersifat umum. Teori-teori ini sering mempergunakan postulat dan asumsi yang berbeda satu sama lainnya.
      Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat. Pernyataan yang mencangkup hubungan sebab akibat ini, atau dengan perkataan lain hubungan kasualita, memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab.
      Teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala-gejala terjadi sedangkan hukum memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang “apa” yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan ”alat” yang dapat dipergunakan untuk mengontrol gejala alam. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi, atau secara idealnya, harus bersifat universal.
      Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin “teoritis” konsep tersebut. Pengertian teoritis di sini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud;  artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Konsep-konsep teoritis seperti gravitasi da medan elektromagnetik merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala-gejala fisik secara universal.
      Kegunaan praktis dari sebuah konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis.  Dan dari pengertian inilah kita sering mendengar konsep dasar dan konsep terapa yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan serta penelitian dasar dan penelitian terapan.
      Di samping hukum maka teori keilmuan juga mengenai kategori pernyataan yang disebut prinsip. Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu, yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi, umpamanya saja hukum sebab akibat sebuah gejala.
      Beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan apa yang disebut postulat dalam menyusun teorinya. Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. Kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disahklan lewat sebuah proses yang disebut metode keilmuan. Postulat ilmiah ditetapkan tanpa melalui prosedur ini melainkan ditetapkan secara begitu saja.
      Bila postulat dalam pengajuannya tidak memerlukan bukti tentang kebenarannya maka hal ini berlainan dengan asumsi yang harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. Asumsi harus merupakan pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji.
      Penelitian  yang bertujuan menemukan pengetahan baru yang sebelumnya
belum pernah diketahui dinamakan penelitian muri atau penelitian dasar Sedangkan penelitian yang bertujuan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidupan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan. Dengan menguasai pengetahuan ini maka manusia mengembangkan teknologi atau peralatan yang berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan dalam kehidupannya.

      Manusia disebut juga Homo faber (makhluk yang membuat peralatan) di sampaingHomo sapiens (makhuk yang berfikir) yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Berbeda dengan pengetahuan lainnya seperti seni yang bersifat estetis maka ilmu adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupannya. Meskipun pada tahap embrional pengembangan ilmu pun pernah bersifat estetis, namun dengan perkembangan kearah kedewasaannya serta kemampuan bidang penerapannya, maka ilmu harus dibedakan dengan pengetahian-pengetahuan lainnya terutama dari segi kemampunannya untuk memecahkan masalah.

Bersambung

Thursday, March 17, 2016

SEKILAS FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER BAB 2

RINGKASAN BUKU FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER KARYA JUJUN S. SURIASUMANTRI


BAB II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN

Pilatus bertanya kepadanya, “Apakah kebenaran?’ Johannes (18:38)
2.     Penalaran
Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan kebudayaan; manusia member makna pada kehidupan, manusa “memanusiakan” diri dalam hidupnya; dsb: semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya: dan pengetahua ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Hakikat Penalaran          
      Penalaran memrupakan suatu proses berfikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berfikir, merasa, bersikap dan bertindak. Penalaran merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
      Sebagai suatu kegiatan berfikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tetentu, yaitu:
1.      Adanya suatu pola berfikir yang secara luas dapat disebut logika.
2.      Sifat analitik dari proses berfikirnya.
Perasaan merupakan suatu penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran. Kegiatan berfikir juga ada yang tidak berdasarkan penalaran umpamanya adalah intuisi. Intuisi merupakan suatu kegiatan berfikir yang nonanalitik yang tidak mendasarkan diri kepada suatu pola berfikir tertentu. Jadi secara luas dapat dikatakan bahwa cara berfikir masyarakat dapat dikategorikan kepada cara berfikir analitik yang berupa penalaran dan cara berfikir yang nonanalitik yang berupa intuisi dan perasaan.

3.     Logika
Penalaran merupakan suatu proses berfikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berfikir itu harus dilakukan sesuai cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru bisa dianggap sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berfikir secara sahih”
Induksi merupakan cara berfikir dimana ditarik kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri  dengan pernyataan yang berdifat umum.
Penalaran deduktif adalah kegiatan berfikir yang sebaliknya dari penalaran induktif. Deduksi adalah cara berfikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berfikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogsmus ini disebut premis yang dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.


4.     Sumber Pengetahuan
De omnibus dubitandum!
Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu!
Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang dikenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empirisme.
Disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain, yang penting untuk diketahui adalah intuisi dan wahyu. Sampai sejauh ini, pengetahuan yang didapatkan secara rasional maunpun secara empiris, kedua-duanya merupakan induk produk dari sebauh rangkaian penalaran. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Sedangkan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutus-Nya sepanjang masa. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transdental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti.


5.  Kriteria Kebenaran
Matematika ialah bentuk pengetahuan yang bentuk penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. Sistem matematika disusun di atas beberapa dasar pernytaan yang dianggap benar yakni aksioma. Dengan mempergunkan beberapa aksioma maka disusun suatu teorema. Di atas teorema maka dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara keseluruhan merupakan suatu sistem yang konsisten. Plato (427-347 S.M.) dan Aristoteles (384-322 S.M.) mengembangkan teori koherensi berdasarkan pola pemikiran yang dipergunakan Euclid dalam menyusun ilmu ukurnya.
Paham lain adalah kebenaran yang berdasarkan teori korenspondensi, dimana eksponen utamanya adalah Bertrand Russell (1827-1970). Bagi penganut teori korespondensi maka suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Kedua teori kebenaran ini yakni teori koherensi dan teori korespondensi kedua-duanya dipergunakan dalam cara berfikir ilmiah. Penalaran teoritis yang berdasarkan logika deduktif jelas mempergunakan teori koherensi ini. Sedangakan proses pembuktian secara empiris dalam bentuk pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan tertentu mempergunakan teori kebenaran yang lain yang disebut teori kebenaran pragmatis.
Teori pragmatis dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How To Make Our Ideas Clear”. Bagi seorang pragmatism aka kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya suatu kebenaran adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

SEKILAS FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER BAB 1

RINGKASAN BUKU FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER KARYA JUJUN S. SURIASUMANTRI


BAB I
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

Da steh ‘ich nun, ich armer Tor!
Und bin so klug  als wie zuvor.
(Nah, di sinilah aku, si goblok yang malang!
Tak lebih bijak dari sebelumnya)
Faust
1.     Ilmu dan Filsafat
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-keduanya. Bersilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Bersilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang. Seberapa jauh sebenernya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Apakah Filsafat?
      Seseorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemstaan yang ditatapnya. Karakteristik berfikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
      Kerendahhatian Sokrates ini bukanlah verbalisme yang sekedar basa-basi. Seorang yang berfikir filsafati selain tengadah ke bintang-bintang, juga membongkar tempat berpijak secara fundamental. Inilah karakteristik berfikir filsafati yang kedua yakni sifatmendasar. Dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu bisa disebut benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar?  Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah lingkaran maka pertanyaan itu melingkar.  Dan menyusur sebuah lingkaran, kita harus mulai dari satu titik, yang awal dan pun sekaligus akhir. Lalu bagaimana menentukan titik awal yang benar?
      “Ah, Horatio,” desis Hamlet, “masih banyak lagi di langit di bumi, selain yang terjaring dalam filsafatmu.” Memang demikian, secara terus terang tidak mungkin kita menangguk pengetahuan secara keseluruhan, dan bahkan kita tidak yakin kepada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar . dalam hal ini kita hanya berspekulatif dan inilah yang merupakan ciri filsafat yang ketiga yakni sifat spekulatif.
Filsafat: Peneratas Pengetahuan
        Filsafat, meminjam pemikiran Will Durant, dapat diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan kelimuan. Setalah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyem-purnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Setelah penyerahan dilakukan maka filsafat pun pergi. Dia kembali menjelajah laut lepas; berspekulasi dan meneratas. Seorang yang skeptis akan berkata; sudah lebih dari dua ribu tahun orang berfilsafat namun selangkah pun dia tidak maju. Sepintas lalu kelihatannya memang demikian, dan kesalahpahaman ini dapat segera dihilangkan, sekiranya kita sadar bahwa filsafat adalah marinir yang merupakan poinir, bukan pengetahuan yang bersifat memerinci. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada ilmu pengetahuan-pengetahuan lainnya. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat.
Bidang Telaah Filsafat
Pada tahap yang pertama adalah filsafat mempersoalkan siapakah manusia itu? Tahap ini dapat dihubungkan dengan segenap pemikiran ahli-ahli filsafat sejak zaman Yunani kuno sampai sekarang yang rupa-rupanya tak kunjung selesai mempermasalahkan makhluk yang satu ini. Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial, mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya.
Tahap yang kedua adalah pertnayaan yang berkisar tentang ada: tentang hidup dan eksistensi manusia.
Tahap yang ketiga, skenarionya bermula pada suatu pertemuan ilmiah tingkat “tinggi”, dimana seorang ilmuan bicara panjang lebar tentang suatu penemuan ilmiah dalam risenya. Setelah berjam-jam dia berbicara maka dia pun menyeka keringatnya dan bertanya kepada hadirin: adakah kiranya yang belum jelas? Salah seorang bangkit dan seperti seorang yang pekak memasang kedua belah tangan di samping kupingnya; apa? (rupanya sejak tadi ia tak mendengar apa-apa).
Cabang-Cabang Filsafat
      Pokok pemasalahan yang dikaji dalam filsafat mencangkup tiga segi, yakni apa yang disebut benar adan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang ilmu filsafat ini kemudian bertambah lagi, yakni pertama teori tentang ada; tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika; dan kedua politik; yakni kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal. Kelima cabang ini kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik diantaranya filsafat ilmu.
Cabang-cabang filsafat tersebut antara lain:


1)      Epistemologi (Filsafat Pengetahuan))
2)      Etika (Filsafat Moral)
3)      Estetika (Filsafat Seni)
4)      Metafisika
5)      Politik (Filsafat Pemerintahan)
6)      Filsafat Agama
7)      Filsafat Ilmu
8)      Filsafat Pendidikan
9)      Filsafat Hukum
10)  Filsafat Matematika


Filsafat Ilmu
      Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang memiliki ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodelogis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu sosial atau ilmu-ilmu alam.
Untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya maka pertanya yang dapat diajukan adalah: apakah yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi)? Bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi) serta untuk apa pengetahuan tersebut dipergunakan (aksiologi)? Dengan mengetahui jawaban dari tiga pertanyaan tersebut maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia.
Kerangka Pengkajian Buku
      Buku ini merupakan pengantar kepada filsafat ilmu yang ditulis secara popular. Tidak semua materi yang seharusnya tercakup dalam sebuah kajian filsafat ilmu dibahas dalam buku ini. Sengaja dipilih hanya beberapa persoalan pokok yang seharusnya diketahui pada tahap elementer. Pembahasan ini ditunjukkan kepada orang awam yang ingin mengetahui aspek kefilsafatan dari bidang keilmuan dan bukan ditujukan kepada kepada mereka yang menjadikan filsafat ilmu sebagai suatu bidang keahlian.